Maaf. Ramadhan menghampiri kita kembali. Kemarin ketika matahari terbenam kalender lunar mengantarkan tamu agung yang boleh jadi merupakan perjumpaan kita yang terakhir dengan bulan yang mulia ini. Ada harap dan cemas yang menyertai jika kali ini kita tak sanggup membersamainya dengan semaksimal mungkin. Bukan karena Ramadhan tak kembali lagi, tetapi justru karena kitalah yang tidak lagi menjadi penghuni dunia ini.
Sebagai sebuah catatan kecil kemarin di media sosial saya mendiskusikan kebiasaan meminta maaf yang sering dilakukan dalam rangka menyambut bulan yang mulia ini. Seorang teman mengingatkan bahwa tidak ada satu keterangan pun yang menyebut bahwa Rasulullah SAW maupun para sahabat (RA) melakukan kegiatan saling meminta maaf dalam rangka menyambut Ramadhan. Maka melakukannya bisa menyebabkan kita tergelincir pada pintu bid'ah karena menyangka kebiasaan tersebut bersumber dari Sunnah Nabi SAW dan para sahabat. Sebuah riwayat yang mengisahkan tentang doa Malaikat Jibril yang diamini oleh Rasulullah soal tidak diterimanya ibadah Ramadhan bagi 3 golongan hamba; anak yang masih memiliki dosa pada orangtuanya, istri pada suaminya, dan orang yang memutus silaturrahim (dalam riwayat lain orang yang memiliki kesalahan dengan tetangganya) ternyata masih belum ditemukan dasarnya dalam kitab-kitab hadits yang ternama.
Saya paham. Teman tersebut bermaksud baik dengan berhati-hati dari mengerjakan sesuatu yang tidak ada sandarannya. Sejatinya, tidak ada seorang manusia pun yang lepas dari kesalahan baik disengaja terlebih tidak disengaja. Jika sebuah kesalahan yang terjadi secara sengaja, tentu mudah kita mengingat dan mengakuinya. Tetapi yang terjadi tanpa disengaja mungkin jauh tebal dan mungkin mengubur kita dalam kubangan kesalahan. Dalam hal kesalahan yang kita lakukan dalam kaitan kita sebagai makhluk pada Tuhannya, Allah Maha Ghafur. Ada banyak pintu tersedia bagi hamba-Nya yang ingin kembali. Ada wudhu, shalat 5 waktu, Shalat Jum'at, ibadah Ramadhan, zakat, haji, bahkan tetes keringat dan rasa lelah seorang suami yang mencari nafkah halal untuk istri dan anaknya. Tapi soal kesalahan kepada sesama manusia haruslah diselesaikan dengan sesama manusia. Terlebih jika menyangkut hak orang lain.
Idealnya saat meminta maaf memang kita mengakui apa saja kesalahan kita. Tetapi yang repot justru kesalahan yang terjadi tanpa disengaja dan tidak disadari. Maka menyampaikan permohonan maaf kepada sesama manusia - di dunia nyata maupun sosial media - bisa dimaklumi dan difahami sebagai sebuah kepatutan sosial. Bahkan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Ramadhan sebenarnya hanya sebuah momentum. Bukan kekhususan. Kata kuncinya adalah penyesalan dan keinginan melakukan perbaikan dalam menatap masa depan.
Meminta maaf dan memberi maaf mungkin mudah diucapkan. Tetapi luka yang tertinggal dari sebuah perbuatan yang tidak disengaja dan disadari dapat begitu dalam dan meninggalkan jejak pada waktu yang lama. Maka dengan semangat penyesalan dan keinginan memperbaiki diri, saya sampaikan permohonan maaf bagi semua yang pernah berinteraksi dengan saya di lingkungan sekitar, diperjalanan, maupun di dunia maya. Semoga semua maaf yang diberikan bisa meringankan langkah kita dalam menikmati jamuan Ramadhan kali ini yang mungkin menjadi Ramadhan terakhir kita dalam hidup ini.
Sebagai sebuah catatan kecil kemarin di media sosial saya mendiskusikan kebiasaan meminta maaf yang sering dilakukan dalam rangka menyambut bulan yang mulia ini. Seorang teman mengingatkan bahwa tidak ada satu keterangan pun yang menyebut bahwa Rasulullah SAW maupun para sahabat (RA) melakukan kegiatan saling meminta maaf dalam rangka menyambut Ramadhan. Maka melakukannya bisa menyebabkan kita tergelincir pada pintu bid'ah karena menyangka kebiasaan tersebut bersumber dari Sunnah Nabi SAW dan para sahabat. Sebuah riwayat yang mengisahkan tentang doa Malaikat Jibril yang diamini oleh Rasulullah soal tidak diterimanya ibadah Ramadhan bagi 3 golongan hamba; anak yang masih memiliki dosa pada orangtuanya, istri pada suaminya, dan orang yang memutus silaturrahim (dalam riwayat lain orang yang memiliki kesalahan dengan tetangganya) ternyata masih belum ditemukan dasarnya dalam kitab-kitab hadits yang ternama.
Saya paham. Teman tersebut bermaksud baik dengan berhati-hati dari mengerjakan sesuatu yang tidak ada sandarannya. Sejatinya, tidak ada seorang manusia pun yang lepas dari kesalahan baik disengaja terlebih tidak disengaja. Jika sebuah kesalahan yang terjadi secara sengaja, tentu mudah kita mengingat dan mengakuinya. Tetapi yang terjadi tanpa disengaja mungkin jauh tebal dan mungkin mengubur kita dalam kubangan kesalahan. Dalam hal kesalahan yang kita lakukan dalam kaitan kita sebagai makhluk pada Tuhannya, Allah Maha Ghafur. Ada banyak pintu tersedia bagi hamba-Nya yang ingin kembali. Ada wudhu, shalat 5 waktu, Shalat Jum'at, ibadah Ramadhan, zakat, haji, bahkan tetes keringat dan rasa lelah seorang suami yang mencari nafkah halal untuk istri dan anaknya. Tapi soal kesalahan kepada sesama manusia haruslah diselesaikan dengan sesama manusia. Terlebih jika menyangkut hak orang lain.
Idealnya saat meminta maaf memang kita mengakui apa saja kesalahan kita. Tetapi yang repot justru kesalahan yang terjadi tanpa disengaja dan tidak disadari. Maka menyampaikan permohonan maaf kepada sesama manusia - di dunia nyata maupun sosial media - bisa dimaklumi dan difahami sebagai sebuah kepatutan sosial. Bahkan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Ramadhan sebenarnya hanya sebuah momentum. Bukan kekhususan. Kata kuncinya adalah penyesalan dan keinginan melakukan perbaikan dalam menatap masa depan.
Meminta maaf dan memberi maaf mungkin mudah diucapkan. Tetapi luka yang tertinggal dari sebuah perbuatan yang tidak disengaja dan disadari dapat begitu dalam dan meninggalkan jejak pada waktu yang lama. Maka dengan semangat penyesalan dan keinginan memperbaiki diri, saya sampaikan permohonan maaf bagi semua yang pernah berinteraksi dengan saya di lingkungan sekitar, diperjalanan, maupun di dunia maya. Semoga semua maaf yang diberikan bisa meringankan langkah kita dalam menikmati jamuan Ramadhan kali ini yang mungkin menjadi Ramadhan terakhir kita dalam hidup ini.
Sukamara, 01 Ramadhan 1436 H



0 komentar:
Posting Komentar