Selasa, 03 Juni 2014

Kita, Dan Negeri Yang Merebus Batu

Kau pasti ingat cerita itu. Anak-anak yang kelaparan dan sang ibu yang hanya bisa menjanjikan harapan. Tak ada makanan sama sekali. Dalam tungku hanya ada air yang ditanak dan segenggam batu yang tak akan pernah masak. Si ibu mungkin bukan ingin berdusta. Mungkin sekedar menunda tanya. Tapi perut yang lapar memang menuntut lebih dari sekedar jawaban.

Lalu kau bilang tentu ceritanya tak sampai di situ. Di tengah malam akan ada seorang pemimpin adil yang berjalan berjalan sambil memanggul sekarung gandum dan menguatkan setiap orang yang lelah untuk sedikit lagi bersabar. Sayangnya, lelaki itu tak ada dalam cerita ini. Mungkin casting belum selesai. Belum ada seorang pun yang dianggap tepat untuk menampilkan peran itu kembali sebagai bagian dari sebuah episode kecil yang indah dan menyejarah.

Begitulah. Entah malam keberapakah kita tertidur dalam keadaan lapar menunggu batu yang tak kunjung masak meski sudah begitu lama ditanak. Pulas dalam selimut kusam dan bermimpi tentang seorang pemimpin adil dan sholih yang akan datang membawa sekarung gandum dan memasak dengan tangannya sendiri. Dan saat kita membuka mata, yang kita temukan lagi-lagi hanya seorang perempuan yang tak henti merebus batu sambil menyuruh kita untuk tidur pulas kembali.

Ya ... Seperti kisah perempuan yang merebus batu itu, bertahun-tahun kita puas didongengi. Bahwa pemimpin yang dihadirkan silih berganti itu serupa manusia setengah dewa yang telah dipilihkan oleh memecahkan masalah kita. Seorang Satria Piningit, Ratu Adil atau apalah yang namanya didawamkan oleh para peramal dari masa kemasa sejak kita tak mengenal aksara dan tak pandai membaca.

Aku tak ingin melarangmu mengubur harapan. Kita semua masih menyimpan harapan yang sama dan biarlah itu tetap terjaga hingga kita tidak tenggelam dalam lautan pesimisme massal yang menggenangi kita. Tapi meyakini bahwa seorang calon Presiden sebagai Satria Piningit seperti meyakini bahwa yang tengah direbus dalam panci itu bukanlah segenggam batu. Seperti menyibukkan diri mencari alamat palsu.

Pemimpin adil, shalih, dan mencintai rakyatnya itu pasti akan datang hadir di tengah kita. Tetapi itu hanya ketika kejujuran, keimanan, dan kebaikan benar-benar wujud dalam kehidupan kita. Pemimpin seperti cermin yang memantulkan bayangan kita sendiri. Jika 900 dari 1000 penduduk di sebuah desa senang mencuri, dapatkah engkau percaya bahwa pemimpinnya bukan pencuri?

Karena itu, siapa pun yang engkau pilih sebagai calon pemimpinmu, jangan terlalu sibuk mencaci maki pasangan lainnya. Yang bisa kita lakukan hanyalah segera bangun. Peras keringat dan air mata kita. Tanak dan masak kemudian minum walau terasa asin. Setidaknya itu lebih bermakna daripada harus menunggu segenggam batu yang tak kunjung masak

0 komentar:

Posting Komentar

 
;