Rabu, 17 Juni 2015 0 komentar

Catatan Ramadhan 1436 H; Hari Pertama

Maaf. Ramadhan menghampiri kita kembali. Kemarin ketika matahari terbenam kalender lunar mengantarkan tamu agung yang boleh jadi merupakan perjumpaan kita yang terakhir dengan bulan yang mulia ini. Ada harap dan cemas yang menyertai jika kali ini kita tak sanggup membersamainya dengan semaksimal mungkin. Bukan karena Ramadhan tak kembali lagi, tetapi justru karena kitalah yang tidak lagi menjadi penghuni dunia ini.

Sebagai sebuah catatan kecil kemarin di media sosial saya mendiskusikan kebiasaan meminta maaf yang sering dilakukan dalam rangka menyambut bulan yang mulia ini. Seorang teman mengingatkan bahwa tidak ada satu keterangan pun yang menyebut bahwa Rasulullah SAW maupun para sahabat (RA) melakukan kegiatan saling meminta maaf dalam rangka menyambut Ramadhan. Maka melakukannya bisa menyebabkan kita tergelincir pada pintu bid'ah karena menyangka kebiasaan tersebut bersumber dari Sunnah Nabi SAW dan para sahabat. Sebuah riwayat yang mengisahkan tentang doa Malaikat Jibril yang diamini oleh Rasulullah soal tidak diterimanya ibadah Ramadhan bagi 3 golongan hamba; anak yang masih memiliki dosa pada orangtuanya, istri pada suaminya, dan orang yang memutus silaturrahim (dalam riwayat lain orang yang memiliki kesalahan dengan tetangganya) ternyata masih belum ditemukan dasarnya dalam kitab-kitab hadits yang ternama.

Saya paham. Teman tersebut bermaksud baik dengan berhati-hati dari mengerjakan sesuatu yang tidak ada sandarannya. Sejatinya, tidak ada seorang manusia pun yang lepas dari kesalahan baik disengaja terlebih tidak disengaja. Jika sebuah kesalahan yang terjadi secara sengaja, tentu mudah kita mengingat dan mengakuinya. Tetapi yang terjadi tanpa disengaja mungkin jauh tebal dan mungkin mengubur kita dalam kubangan kesalahan. Dalam hal kesalahan yang kita lakukan dalam kaitan kita sebagai makhluk pada Tuhannya, Allah Maha Ghafur. Ada banyak pintu tersedia bagi hamba-Nya yang ingin kembali. Ada wudhu, shalat 5 waktu, Shalat Jum'at, ibadah Ramadhan, zakat, haji, bahkan tetes keringat dan rasa lelah seorang suami yang mencari nafkah halal untuk istri dan anaknya. Tapi soal kesalahan kepada sesama manusia haruslah diselesaikan dengan sesama manusia. Terlebih jika menyangkut hak orang lain. 

Idealnya saat meminta maaf memang kita mengakui apa saja kesalahan kita. Tetapi yang repot justru kesalahan yang terjadi tanpa disengaja dan tidak disadari. Maka menyampaikan permohonan maaf kepada sesama manusia - di dunia nyata maupun sosial media - bisa dimaklumi dan difahami sebagai sebuah kepatutan sosial. Bahkan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Ramadhan sebenarnya hanya sebuah momentum. Bukan kekhususan. Kata kuncinya adalah penyesalan dan keinginan melakukan perbaikan dalam menatap masa depan.

Meminta maaf dan memberi maaf mungkin mudah diucapkan. Tetapi luka yang tertinggal dari sebuah perbuatan yang tidak disengaja dan disadari dapat begitu dalam dan meninggalkan jejak pada waktu yang lama. Maka dengan semangat penyesalan dan keinginan memperbaiki diri, saya sampaikan permohonan maaf bagi semua yang pernah berinteraksi dengan saya di lingkungan sekitar, diperjalanan, maupun di dunia maya. Semoga semua maaf yang diberikan bisa meringankan langkah kita dalam menikmati jamuan Ramadhan kali ini yang mungkin menjadi Ramadhan terakhir kita dalam hidup ini.

Sukamara, 01 Ramadhan 1436 H

Selasa, 03 Juni 2014 0 komentar

Kita, Dan Negeri Yang Merebus Batu

Kau pasti ingat cerita itu. Anak-anak yang kelaparan dan sang ibu yang hanya bisa menjanjikan harapan. Tak ada makanan sama sekali. Dalam tungku hanya ada air yang ditanak dan segenggam batu yang tak akan pernah masak. Si ibu mungkin bukan ingin berdusta. Mungkin sekedar menunda tanya. Tapi perut yang lapar memang menuntut lebih dari sekedar jawaban.

Lalu kau bilang tentu ceritanya tak sampai di situ. Di tengah malam akan ada seorang pemimpin adil yang berjalan berjalan sambil memanggul sekarung gandum dan menguatkan setiap orang yang lelah untuk sedikit lagi bersabar. Sayangnya, lelaki itu tak ada dalam cerita ini. Mungkin casting belum selesai. Belum ada seorang pun yang dianggap tepat untuk menampilkan peran itu kembali sebagai bagian dari sebuah episode kecil yang indah dan menyejarah.

Begitulah. Entah malam keberapakah kita tertidur dalam keadaan lapar menunggu batu yang tak kunjung masak meski sudah begitu lama ditanak. Pulas dalam selimut kusam dan bermimpi tentang seorang pemimpin adil dan sholih yang akan datang membawa sekarung gandum dan memasak dengan tangannya sendiri. Dan saat kita membuka mata, yang kita temukan lagi-lagi hanya seorang perempuan yang tak henti merebus batu sambil menyuruh kita untuk tidur pulas kembali.

Ya ... Seperti kisah perempuan yang merebus batu itu, bertahun-tahun kita puas didongengi. Bahwa pemimpin yang dihadirkan silih berganti itu serupa manusia setengah dewa yang telah dipilihkan oleh memecahkan masalah kita. Seorang Satria Piningit, Ratu Adil atau apalah yang namanya didawamkan oleh para peramal dari masa kemasa sejak kita tak mengenal aksara dan tak pandai membaca.

Aku tak ingin melarangmu mengubur harapan. Kita semua masih menyimpan harapan yang sama dan biarlah itu tetap terjaga hingga kita tidak tenggelam dalam lautan pesimisme massal yang menggenangi kita. Tapi meyakini bahwa seorang calon Presiden sebagai Satria Piningit seperti meyakini bahwa yang tengah direbus dalam panci itu bukanlah segenggam batu. Seperti menyibukkan diri mencari alamat palsu.

Pemimpin adil, shalih, dan mencintai rakyatnya itu pasti akan datang hadir di tengah kita. Tetapi itu hanya ketika kejujuran, keimanan, dan kebaikan benar-benar wujud dalam kehidupan kita. Pemimpin seperti cermin yang memantulkan bayangan kita sendiri. Jika 900 dari 1000 penduduk di sebuah desa senang mencuri, dapatkah engkau percaya bahwa pemimpinnya bukan pencuri?

Karena itu, siapa pun yang engkau pilih sebagai calon pemimpinmu, jangan terlalu sibuk mencaci maki pasangan lainnya. Yang bisa kita lakukan hanyalah segera bangun. Peras keringat dan air mata kita. Tanak dan masak kemudian minum walau terasa asin. Setidaknya itu lebih bermakna daripada harus menunggu segenggam batu yang tak kunjung masak
 
;